Langsung ke konten utama

Postingan

Timnas u-22: Pesimisme dan Raja ASEAN

(26/2) Indonesia menemui paradoksnya malam ini. Timnas yang malam ini bermain menempatkan dirinya bagai bunga mawar di gurun pasir. Merekah merah, sendirian. Atmosfer sepak bola dalam negeri akhir-akhir ini memburuk, sekaligus membaik. Memburuk karena huru-hara yang disimpan Pak Joko “Jokdri” Driyono dan hulubalangnya terkait permainan kotor sepak bola, mulai mencuat ke publik. Membuat ramai pemberitaan dan tak kalah pentingnya membuat miris para pecinta sepak bola tanah air. Namun, di satu sisi juga membaik karena hal itu cepat terungkap dan tidak semakin membusuk di tangan para elite. 2018 menyisakan banyak cerita yang terus berlanjut sampai saat ini. Setelah babak belur di AFF Cup 2018, publik sepak bola kita digemparkan dengan munculnya berbagai kisah ‘permainan belakang’ yang ada di kompetisi domestik buatan PSSI, dari kasta terendah sampai hierarki tertinggi. Dari akar rumput sampai pemangku kepentingan. Bukan cerita baru memang, tapi melihatnya terungkap sedemikian di...

Rumah

Kita tentu sudah lama mengenal ungkapan ‘Rumahku surgaku’. Ya seperti secara harfiahnya surga, tempat manusia ingin selamanya tinggal di sana, pulang. Tempat yang indah dan nyaman, yang membuat manusia bahagia. Setidaknya begitulah gambaran surga yang sudah ditanamkan sejak kecil pada kita. Sama seperti surga, rumah diharapkan mampu menjadi tempat yang indah dan nyaman. Tempat yang pertama kali terpikirkan saat tubuh butuh istirahat, pikiran butuh kesunyian, dan jiwa butuh ditenangkan. Bahkan, sejauh apapun seorang petualang pergi, tempatnya pulang tetaplah rumah. Saya pikir, siapapun dia pasti butuh rumah, termasuk sebuah klub sepak bola yang dalam hal ini berarti butuh kandang. Tanpa rumah, lalu apa makna pulang? Konsep sepak bola modern mengusung ide untuk membagi liga domestik menjadi dua putaran. Satu kali bermain kandang dan satu kali bermain tandang, singkatnya home-away. Sampai hari ini jika ada tim yang bermain di kandangnya sendiri masih dianggap sebagai keu...

Dialog Rasa

Ada banyak hal yang aku suka dari Jakarta sekalipun aku baru tiga kali menginjak tanahnya. Persija, Pak Anies, Monas, dan mimpi. Ada banyak hal yang aku suka dari Solo, tidak terhitung lagi berapa kali aku menghirup udaranya. Akung, ati, Laweyan, dan kenangan. Ada banyak hal yang aku suka dari Semarang. Sudah sejak kecil aku meminum airnya. Akung, ati, Kota Tua, simpang lima, dan masa kecil. Sungguh ada banyak hal yang aku suka dari Jogja meskipun aku tidak memiliki ikatan apapun dengannya. Malioboro, kraton, ugm, dan harapan. Aku suka banyak hal dari tempat lain, sampai aku berpikir, apa yang aku suka perihal Purwokerto? Bahkan ari-ariku dikubur dalam tanahnya, napas pertama yang kuhirup adalah udaranya, air yang memandikanku untuk pertama kali ialah airnya. Lantas aku sudah berbuat untuk kota ini? Hanyakah aku seonggok daging yang tidak berguna? Apakah aku hanya menumpang lintas di tanahnya? Aku senang mencari tempat lain sampai aku lupa seberapa jauhpun...

Persija Juara!

Meski harapan itu ada, saya masih tidak percaya saat-saat itu telah tiba. Tahun 2015, saya kira ini adalah tahun terburuk bagi sepak bola Indonesia secara umum. FIFA memberi sanksi pada PSSI yakni mengucilkan persepakbolaan Indonesia di panggung internasional. Ajang terakhir Indonesia adalah pentas SEA Games 2015 Singapura, setelahnya sepak bola Indonesia benar-benar mati. Liga domestik tidak berjalan dan pemain sepak bola banyak yang menganggur, sebagai gantinya PSSI menggelar turnamen-turnamen jangka pendek untuk mengisi kekosongan, sebut saja Piala Presiden, Piala Jenderal Sudirman, dan Piala Bhayangkara hingga liga semi-profesional, Indonesia Super Championship (ISC).         Akan tetapi, saya kira di tahun itu juga perjalanan Persija menuju tangga juara di musim ini dimulai. Dari turnamen-turnamen yang banyak digelar itu Persija menemukan banyak pemain bertalenta, entah pemain anyar yang masih bau kencur atau pemain lama yang seperti menemukan jat...

Bersabar Lebih Lama Lagi.

Betapa tidak enaknya hidup bergantung pada orang lain. Mungkin itulah yang kini sedang dirasakan punggawa garuda di piala AFF 2018. Bahkan pertandingan terakhir mereka belum dimainkan, tapi mereka sudah dipastikan angkat koper dari turnamen akbar Asia Tenggara ini. Hasil seri Thailand kontra Filipina sudah menutup rapat kans garuda untuk melaju ke semifinal. Saya ingat, dua tahun lalu, saat penyambutan pemain di Bandara Soetta setelah dikalahkan Thailand di final AFF 2016, ketua PSSI, Edy Rahmayadi menegaskan bahwa tahun-tahun setelah ini Indonesia bukan negara yang kalah. Spirit yang begitu menggebu menular ke dalam sanubari saya. saya percaya, masa depan sepak bola Indonesia cerah, yang pasti sudah selangkah meninggalkan masa kelam itu. Dan dua tahun kemudian, Indonesia kembali lagi ke ajang ini. Misinya jelas, menuntaskan yang belum usai; juara. Yang aneh, tujuan kita jelas, tapi jalur yang kita ambil tidak lazim. Dimulai dari drama perpanjangan kontrak pelatih asal negeri...

Kutukan 16 Besar?

Saya cukup paham persepakbolaan negeri tidak ubahnya seperti benang yang diulur-ulur sekenanya, kusut. Saya cukup tahu saat persepakbolaan Indonesia diterpa angin musim kemarau, kering. Kusut di hierarki tertinggi, kering ihwal prestasi, tidak ada satupun kebanggaan yang bisa terucap kala berbicara tentang sepak bola Indonesia. Meski begitu, cinta saya untuk sepak bola Indonesia tidak pernah dan tidak akan bisa luntur. Sebut saja saya bodoh, mencintai saja sudah hal yang berat, ditambah yang dicintai tidak pernah membuat bahagia. Orang yang sedang mencinta mungkin saja sebodoh itu. Namun, saya tidak senaif itu. Tidak buta oleh cinta yang begitu. Saya tahu dan sangat paham sepak bola di negeri ini tidak begitu baik untuk dibanggakan, tapi justru karena cinta itu saya menyimpan harap dan cita-cita untuk sepak bola Indonesia yang lebih baik lagi. Malam ini (28/10), harapan dan cita-cita itu membumbung tinggi. Asa yang terkumpul, sudah lama ingin menjemput takdirnya. Piala du...

Tuntaskan, Milla!

Langkah tim nasional sepak bola Indonesia di Asian Games 2018 dipastikan terhenti di babak 16 besar. Meleset satu babak dari target federasi. Sudah begitu, tugas pemain untuk Asian Games 2018 selesai sampai di sini, saatnya menjalani rutinitas kembali dan fokus pada tim masing-masing. Mungkin beberapa akan kembali dipanggil untuk memperkuat tim AFF 2018 akhir tahun nanti. Namun, satu pertanyaan yang tertinggal adalah bagaimana nasib Luis Milla? Pelatih berkebangsaan Spanyol yang sudah menukangi timnas sejak awal tahun 2017. Menurut pandangan saya pribadi, Luis Milla bukan tidak bagus, tapi mungkin kurang beruntung. Hahaha. Apakah saya terkesan membela Luis Milla? Target yang federasi berikan untuk Luis Milla tidak ada satupun yang berhasil. Pertama, Sea Games Kuala Lumpur 2017, timnas yang ditarget emas terhenti di perebutan perunggu. Lalu, target utama dari yang utama, Asian Games Jakarta Palembang 2018, coach Luis hanya bisa mengantarkan Hansamu Yama dkk. sampai babak 16 besar....