Posts

Dialog Rasa

Image
Ada banyak hal yang aku suka dari Jakarta sekalipun aku baru tiga kali menginjak tanahnya. Persija, Pak Anies, Monas, dan mimpi.
Ada banyak hal yang aku suka dari Solo, tidak terhitung lagi berapa kali aku menghirup udaranya. Akung, ati, Laweyan, dan kenangan.
Ada banyak hal yang aku suka dari Semarang. Sudah sejak kecil aku meminum airnya. Akung, ati, Kota Tua, simpang lima, dan masa kecil.
Sungguh ada banyak hal yang aku suka dari Jogja meskipun aku tidak memiliki ikatan apapun dengannya. Malioboro, kraton, ugm, dan harapan.
Aku suka banyak hal dari tempat lain, sampai aku berpikir, apa yang aku suka perihal Purwokerto?
Bahkan ari-ariku dikubur dalam tanahnya, napas pertama yang kuhirup adalah udaranya, air yang memandikanku untuk pertama kali ialah airnya. Lantas aku sudah berbuat untuk kota ini? Hanyakah aku seonggok daging yang tidak berguna? Apakah aku hanya menumpang lintas di tanahnya?
Aku senang mencari tempat lain sampai aku lupa seberapa jauhpun aku pergi, tempatku kembali hanya…

Persija Juara!

Meski harapan itu ada, saya masih tidak percaya saat-saat itu telah tiba.
Tahun 2015, saya kira ini adalah tahun terburuk bagi sepak bola Indonesia secara umum. FIFA memberi sanksi pada PSSI yakni mengucilkan persepakbolaan Indonesia di panggung internasional. Ajang terakhir Indonesia adalah pentas SEA Games 2015 Singapura, setelahnya sepak bola Indonesia benar-benar mati. Liga domestik tidak berjalan dan pemain sepak bola banyak yang menganggur, sebagai gantinya PSSI menggelar turnamen-turnamen jangka pendek untuk mengisi kekosongan, sebut saja Piala Presiden, Piala Jenderal Sudirman, dan Piala Bhayangkara hingga liga semi-profesional, Indonesia Super Championship (ISC).  Akan tetapi, saya kira di tahun itu juga perjalanan Persija menuju tangga juara di musim ini dimulai. Dari turnamen-turnamen yang banyak digelar itu Persija menemukan banyak pemain bertalenta, entah pemain anyar yang masih bau kencur atau pemain lama yang seperti menemukan jati dirinya lagi. Contohnya Rezaldi Hehanuss…

Bersabar Lebih Lama Lagi.

Betapa tidak enaknya hidup bergantung pada orang lain. Mungkin itulah yang kini sedang dirasakan punggawa garuda di piala AFF 2018. Bahkan pertandingan terakhir mereka belum dimainkan, tapi mereka sudah dipastikan angkat koper dari turnamen akbar Asia Tenggara ini. Hasil seri Thailand kontra Filipina sudah menutup rapat kans garuda untuk melaju ke semifinal.
Saya ingat, dua tahun lalu, saat penyambutan pemain di Bandara Soetta setelah dikalahkan Thailand di final AFF 2016, ketua PSSI, Edy Rahmayadi menegaskan bahwa tahun-tahun setelah ini Indonesia bukan negara yang kalah. Spirit yang begitu menggebu menular ke dalam sanubari saya. saya percaya, masa depan sepak bola Indonesia cerah, yang pasti sudah selangkah meninggalkan masa kelam itu.
Dan dua tahun kemudian, Indonesia kembali lagi ke ajang ini. Misinya jelas, menuntaskan yang belum usai; juara. Yang aneh, tujuan kita jelas, tapi jalur yang kita ambil tidak lazim. Dimulai dari drama perpanjangan kontrak pelatih asal negeri matador it…

Kutukan 16 Besar?

Saya cukup paham persepakbolaan negeri tidak ubahnya seperti benang yang diulur-ulur sekenanya, kusut. Saya cukup tahu saat persepakbolaan Indonesia diterpa angin musim kemarau, kering. Kusut di hierarki tertinggi, kering ihwal prestasi, tidak ada satupun kebanggaan yang bisa terucap kala berbicara tentang sepak bola Indonesia.
Meski begitu, cinta saya untuk sepak bola Indonesia tidak pernah dan tidak akan bisa luntur. Sebut saja saya bodoh, mencintai saja sudah hal yang berat, ditambah yang dicintai tidak pernah membuat bahagia. Orang yang sedang mencinta mungkin saja sebodoh itu.
Namun, saya tidak senaif itu. Tidak buta oleh cinta yang begitu. Saya tahu dan sangat paham sepak bola di negeri ini tidak begitu baik untuk dibanggakan, tapi justru karena cinta itu saya menyimpan harap dan cita-cita untuk sepak bola Indonesia yang lebih baik lagi.
Malam ini (28/10), harapan dan cita-cita itu membumbung tinggi. Asa yang terkumpul, sudah lama ingin menjemput takdirnya. Piala dunia u-20, satu-…

Luka yang (Tidak) Pernah Mengering

Pita hitam kembali melingkar di lengan, bendera kuning sekali lagi dikibarkan.
Jakarta dan Bandung, dua kota besar yang gemilang dengan sejarah persepakbolaannya. Dua kota besar yang direpresentasikan oleh dua tim besar, Persija dan Persib. Salah dua dari tim yang ikut menggagas PSSI, dua tim yang sejak dulu banyak bahu-membahu menyokong tim nasional, dan dua tim yang sedianya bersahabat karib sejak belia.
Entah kapan persis awalnya dan siapa yang memulainya, Persija dan Persib seperti dua orang yang sudah sama sekali tidak mengenal. Dari kursi yang paling tinggi, terlebih di akar rumput. Semua menggemakan ‘adu gengsi’ untuk pertandingan yang mempertemukan kedua tim ini, banyak juga yang menyebut ‘duel klasik’, ‘big match’, atau lain sebagainya. Walau seharusnya pertandingan ini merupakan pertandingan biasa atau setidaknya dianggap ‘biasa’.
Jika menilik secara dalam sejarah sepak bola Indonesia, seharusnya tidak ada sematan apa-apa untuk pertandingan Persija kontra Persib. ‘Duel klasik’…

Tuntaskan, Milla!

Langkah tim nasional sepak bola Indonesia di Asian Games 2018 dipastikan terhenti di babak 16 besar. Meleset satu babak dari target federasi. Sudah begitu, tugas pemain untuk Asian Games 2018 selesai sampai di sini, saatnya menjalani rutinitas kembali dan fokus pada tim masing-masing. Mungkin beberapa akan kembali dipanggil untuk memperkuat tim AFF 2018 akhir tahun nanti.
Namun, satu pertanyaan yang tertinggal adalah bagaimana nasib Luis Milla? Pelatih berkebangsaan Spanyol yang sudah menukangi timnas sejak awal tahun 2017. Menurut pandangan saya pribadi, Luis Milla bukan tidak bagus, tapi mungkin kurang beruntung. Hahaha. Apakah saya terkesan membela Luis Milla? Target yang federasi berikan untuk Luis Milla tidak ada satupun yang berhasil. Pertama, Sea Games Kuala Lumpur 2017, timnas yang ditarget emas terhenti di perebutan perunggu. Lalu, target utama dari yang utama, Asian Games Jakarta Palembang 2018, coach Luis hanya bisa mengantarkan Hansamu Yama dkk. sampai babak 16 besar.
Tidak…

Sebuah Seni Bernama Sepak Bola

Saya masih terlampau kecil waktu itu, kala Indonesia melakoni final keempatnya sepanjang keikutsertaannya dalam AFF Cup. 26 Desember 2010, umur saya baru menginjak 9 tahun lewat 17 hari. Masih sangat lugu dan polos saat mendukung negaranya. Saya baru kenal sepak bola tahun itu, di mana timnas sepak bola Indonesia sedang digandrungi oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Seperti kebanyakan hati rakyat Indonesia, malam itu hati kami sedang kelabu. Malam itu di Malaysia timnas sepak bola kami digilas 3 gol tanpa ampun oleh Harimau Malaya. Saya pribadi sangat sedih kala itu, meski tahu masih ada leg 2, dihabisi di kandang lawan sudah cukup menumbangkan semangat saya.
Ya, yang saya tahu saat itu hanya ‘Saya sedih Indonesia kalah’. Dalam otak dan pikiran saya berkali-kali bergaung kalimat ‘Dalam permainan menang kalah adalah hal yang biasa’.
Saat itu saya terlampau larut dalam kesedihan tanpa tahu ada sebuah gejolak besar yang menimpa persepakbolaan Indonesia.
Tepat di malam itu, 26 Desemb…